07-02: Indonesia Negara Bahari
(Kategori Kelautan) - unpublished
Phinisi (lihat gambar) bukan hanya merupakan kapal kebanggaan orang Bugis melainkan juga kebanggaan kita semua.
Sebenarnya bukan hanya orang Bugis yang mampu membuat kapal yang mampu mengarungi samudra seperti phinisi, melainkan juga orang Jawa dengan jukungnya. Namun sejarah telah membuatnya punah, terutama setelah VOC mengalahkan Sultan Agung dan selanjutnya raja-raja Mataram bersifat represif terhadap orang pesisir.
Bagi orang Jawa menjadi nelayan bukanlah kebanggaan, seperti yang kita dengar dari pak Malik nelayan dari pantai Kenjeran (pantai utara Jawa) yang mencari ikan (tepatnya menunggu ikan masuk ke jalanya) di Selat Madura.
Di pantai selatan Jawa, nelayan benar-benar menantang alam; dengan menggunakan hanya sekoci mereka berani berlayar sampai 180 mil laut ke tengah Samudra Hindia. Jangan heran: kebanyakan nelayan si sini keturunan orang Bugis dan sekoci mereka merupakan turunan dari phinisi.
Teknoantrop
Bahwa sejarah dan antropologi mempengaruhi perkembangan teknologi, termasuk teknologi kelautan (markitim) dihipotesiskan oleh Ir. Mathius J. Tamaela dari Unsada. Ikuti hipotesisnya yang sepintas dibahas di Neotek kali ini.
Teknologi Maritim
Pada dasarnya anda bisa membuat kapal laut sendiri, menggunakan para pengrajin perahu yang banyak terdapat di sepanjang pantai Selatan Jawa. Perahu yang mereka buat adalah yang sudah biasa mereka buat, tanpa rancangan awal dan bahkan tanpa gambar teknik. Pengalaman yang membuat perahu ini laik layar, meskipun di pantai Utara Jawa perahu ini kadang-kadang tidak simetris!
Kenali pembuatan perahu tradisional ini serta bagaimana seorang pastor dari Italia berhasil menyuntikkan teknologi tepat guna untuk memperbaiki teknologi pembuatan perahu tanpa mengubah tradisi para pengrajin. Adaptasi teknologi inilah yang membuatnya berhasil dan bukannya memaksa pengrajin perahu bekerja mengikuti teori sekolahan.